Komunikasi Visual Sinematik: Optimalisasi Sosialisasi Pemilu bagi Generasi Z

Oleh: Andi Muyassar Alfideri Hatta (CPNS KPU Kota Sukabumi)

Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah(Pilkada) merupakan instrumen paling krusial dalam penyelenggara negara yang menganut sistem demokrasi. Eksistensi Pemilu sendiri berawal dari pemikiran filosifi yang digagas oleh John Locke dan Rousseau, yang dimana menekankan pada hak asasi, keadilan, dan kesetaraan dalam segala bidang. Dalam Demokrasi itu sendiri, nilai-nilai partisipatif dan kedaulatan yang dijunjung tinggi dan harus dijalankan oleh warga negara dan instrument negara (Bactiar,2014). Pemilu dan Pilkada adalah momentum dimana rakyat menggunakan hak pilihnya untuk menentukan arah masa depan bangsa dengan memberikan mandat pada pemimpin bangsa yang akan datang.

Namun, dalam praktiknya, penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada seringkali dihadapkan pada tantangan besar berupa rendahnya partisipasi masyarakat. Meskipun secara angka kehadiran pemilih mungkin mencukupi, secara pemahaman masih terdapat jurang yang lebar antara penggunaan hak suara dengan kualitas pemahaman politik. Fenomena apatisme politik, terutama di kalangan generasi muda, menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan demokrasi di Indonesia. Sehingga dengan adanya ancaman tersebut, KPU Perlu untuk adaptasi agar materi atau sosialisasinya bisa berjalan dengan efektif.

Dengan adanya perkembangan jaman yang semakin marak menggunakan Sosial Media, untuk menjangkau kalangan muda maka diperlukan adaptif terhadap Strategi yang akan digunakan. Strategi Cinematic Storytelling adalah solusi untuk menjangkau para kalangan muda maupun gen z. Strategi ini sudah digunakan oleh beberapa creator Indonesia seperti Ferry Irwandi, dan Raymond Chin. Strategi Cinematic Story Telling adalah strategi menggunakan elemen visual, audio, dan narasi untuk menciptakan emosi dan pengalaman yang mendalam bagi penonton, sehingga informasi yang "berat" terasa seperti menonton sebuah cerita pendek yang estetik. Hal ini efektif dikarenakan melihat dari views yang didapatkan oleh Ferry Irwandi maupun Raymon Chin, sangat banyak menonton dan meningkatkan kesadaran para penonton dalam hal apa yang disampaikan oleh Ferry Irwandi dan Raymon Chin. Sehingga, teknik ini diperlukan untuk menghilangkan jurang yang lebar antara penggunaan hak suara dengan kualitas pemahaman politik.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Dilihat 93 Kali.